Perkembangan Anak Usia 2-4 tahun


image

Bismillahirrahmanirrahiim

💙💙 💙💙💙💙💙💙💙💙

📚Resume Materi Grup WhatsApp Rumah Main Anak📚
📆Hari/tanggal: Kamis/ 10 Maret 2016.📆

🌷Perkembangan Anak Usia 2-4 tahun 🌷
🎤 Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
📝 Peresume: Arma Zaida

Menurut saya pribadi, perkembangan di usia 2-4 tahun itu paling menakjubkan. Di rentang usia ini, benar-benar terasa kalau anak bukan lagi bayi yang masih kecil dan sudah siap untuk belajar lebih banyak hal baru.

Umumnya dalam ilmu perkembangan, anak rentang usia sampai 36 bulan masih disebut toddler. Toddler itu kurang lebih artinya berjalan dengan masih pelan-pelan dan masih berusaha menjaga keseimbangan. Mirip-mirip pinguin gitu, hehe. Kalau di Indonesia, kita lebih kenal istilah batita (bayi di bawah tiga tahun). Di usia ini, perkembangan motorik yang paling menonjol bisa dikatakan adalah keseimbangan anak sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Di usia 2 tahun umumnya anak sudah bisa berlari dan melompat-lompat. Dalam aspek kognitif, perubahan paling signifikan dibandingkan usia sebelumnya adalah perkembangan bahasa.

Anak di usia 2-3 tahun mempelajari banyak kata-kata baru dan mulai berusaha berbicara. Anak usia 2 tahun sudah bisa bicara dengan 1 atau 2 kata sederhana, selanjutnya berkembang jadi kalimat sederhana dgn 2-3 kata. Sedangkan dalam aspek psikososial, anak sudah mulai berinteraksi dengan anak lain dan terlibat dalam kegiatan bermain. Anak tidak lagi hanya mengenal anggota keluarga tapi juga mulai melakukan kegiatan dengan teman sebaya. Atau setidaknya anak mulai memperhatikan anak lain saat bermain dan menunjukkan ketertarikan. Ada juga anak yang akan lebih dulu menyapa orang lain.

Usia 3-4 tahun sudah masuk ke masa early childhood (masa kanak-kanak awal) atau disebut juga masa prasekolah. Di usia ini anak-anak biasanya sudah mulai terpapar dengan kegiatan yang berhubungan erat dengan akademik, misalnya memegang alat tulis, mengenal simbol (huruf, angka, dll) walaupun tidak harus selalu diikutkan ke sekolah formal. Kematangan motorik, kognitif, dan psikososial pada anak di usia 3-4 tahun ini menunjang kesiapannya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Perkembangan motorik kasar dan motorik halus di usia 3-4 tahun ini semakin baik. Pada usia ini, otot anak lebih kuat, keseimbangan lebih baik, dan ditunjang perkembangan kognitif yang lebih advanced sehingga ia bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya masih sulit untuknya.

Contoh kegiatan motorik kasar adalah belajar naik sepeda, belajar memakai pakaian sendiri, naik-turun tangga, lari dan lompat. Contoh kegiatan motorik halus adalah belajar memegang peralatan makan, mengambil benda kecil dengan ujung jari, membuat coreran-coretan dan meniru bentuk, serta menggunakan gunting dan lem. Dalam aspek psikososial, anak lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau anak-anak lain. Karena perkembangan bahasa mereka juga sudah lebih baik, anak sudah bisa mulai berkomunikasi secara verbal untuk menyampaikan isi pikirannya.

Anak juga mulai mengembangkan kemandirian dalam melakukan kegiatan, terutama dalam keterampilan-keterampilan baru yang ia sudah pelajari seperti makan sendiri, berpakaian sendiri, dan mengambil barang sendiri. Dengan kemampuan kognitifnya, anak juga sudah bisa mulai diperkenalkan dengan aturan yang berlaku.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Tanya-Jawab

1. Bagaimana cara yg efektif utk memberi tahu anak 3thnan pembagian waktu mainnya, kapan main bersama tmn (baik di rumah kita /di rumah temannya) atau waktunya main/ homeschooling di rmh? Terkadang jika sudah main di luar bersama temannya pulang harus dirayu2 dl. Mengingat kegiatan homeschooling nya ada yg lebih enak anak dan ortu aja. Terima kasiih 😄
Ika Jbb / Jakarta / 3th 12hri/ RMA7
Jawab:
Pagi Mba Ikaaa, Anak usia 3,5 tahun sudah bisa kok Mba diajak berkomunikasi 2 arah dan membuat kesepakatan2, Bun. Jadi, ada baiknya sebelum anak main, Bunda berdialog dgn putra Bunda. Memberi tahu ia boleh pergi ke mana, ke rumah siapa, juga berapa lama waktunya. Selain itu, Bunda juga membuat kesepakatan2 dengan si kecil, misal: jika Bunda jemput maka sudah waktunya pulang ya. Juga membuat kinsekuensi bersama, misal: Jika tidak segera pulang maka anak akan … Bunda jelaskan bahwa ada kegiatan juga di rumah jika terlambat maka akan berpengaruh dengan kegiatan lainnya. Misal, mandi akan kesorean, makan akan kemaleman jika kelamaan main di rumah teman, dll. Pastikan Bunda tegas dan konsisten dengan kesepakatan dan konsekuensi yg telah dibuat bersama ya Bun. Dan pastikan anak terlibat penuh dlm pembuatan kesepakatan tersebut ✅

2. Assalamualaikum mbak saya ingin bertanya cara menangani anak yg melontarkan kata-kata kurang pantas ketika sedang marah atau merasa terganggu , ketika saya mengingatkan bahwa itu tidak baik pasti dia bilang “mi maafin ya, gak boleh ya? ngomongnya halus yg baik baik ya? kadang dia sebut juga dalilnya ’ linnaasi husna ya mi’( waquulu linnaasihusna maksudnya), kata yg dilontarkan ini ‘orang gila’tapi saya tanya apa  artinya pun dia jawab ’ orang gila badut’ , tapi jadi gak enak ketika kata itu terlontar di depan umum, memang anaknya dari segi bahasa sangat cepat menangkap, saya sama sama suami sudah berhati hati tapi rupanya dia mendengar dari anak tetangga terimakasi
Elis/Bogor/2y7m/RMA7
Jawab:
Wa’alaikumsalam mba Elis..
Anak usia 2 tahun memang masih mudah sekali meniru banyak hal ya, Mba. Baik perbuatan juga ucapan. Untuk itulah kita memang harus berhati-hati sekali. Berkata dan berlaku baik di hadapan anak agar anak melihat contoh yg baik2, salah satu hak anak termasuk juga mendapat lingkungan yg kondusif utk tumbuh kembang anak. Akan tetapi, jika memang lingkungan sekitar saat ini belum kondusif, yg bisa kita lakukan ialah mengimun anak, bukan mensterilkan anak. Kuatkan imun anak dr dalam rumah, agar saat ia keluar tidak mudah terpengaruh dgn lingkungannya.

Seringkali anak2 di usia ini hanya sekadar ikut2an saja, namun tidak memahami artinya. Bagus sekali Bunda bertanya “apa artinya” pd anak. Bunda bisa memberi pengertian bahwa ucapan tsb tidak baik. Kalau anak saya biasanya saya beri tahu juga, “Abaaang..berkata baik ataauuu? Diam.” Memang tak bisa instan Bun, harus terus-menerus diingkatkan, dan sabaaaar. 💪🏽✊🏽✅

3. Aslmkm. Saya ingin bertanya bun. Anak saya umur 3 tahun masih belum jelas pengucapan katanya,apakah tidak masalah? Karena mengikuti abangnya jadi seperti terburu2. Bagaimana caranya agar anak mau pelan2 dalam berbicara.
Rosa / Ciputat /Runi 3 tahun /RMA7
Jawab:
Wa’alaikumsalam bunda Rosa.
Kadang (atau malah seringkali) saat baru mulai belajar bicara (bukan babbling lagi) anak bicara dengan artikulasi atau kata yang tidak dipahami orang dewasa. Apalagi kalau usianya baru 2-3 tahun, di mana artikulasi kata juga belum berkembang sempurna, misalnya masih sulit mengucapkan bunyi huruf tertentu seperti r, s, g, dan k. Anak jadi terlihat cadel atau tidak jelas bicara apa. Tapi mungkin bagi anak sendiri, kata-kata yang tidak jelas itu sebetulnya bermakna. Di usia 24m-30m (2-2,5 thn) itu, dari literatur yang saya baca dan pengalaman pribadi, perilaku seperti ini cukup banyak ditunjukkan oleh anak. Untuk membantu anak memperbaiki artikulasi kata yang dikeluarkannya, orangtua dapat:
-tetap berusaha mendengarkan, dan berusaha menangkap kata yang diucapkan anak. Terutama kata yang sudah lebih jelas pengucapannya. Mungkin ibaratnya, kita mendengar orang bicara cepat sekali dalam bahasa asing, tapi masih ada 1 atau 2 kata yang kita tangkap
– Dari kata yang bisa ditangkap oleh orangtua, konfirmasi ke anak apa memang kata itu yang ia maksud. Misalnya, “Air? Oo..adek tadi lihat air ya?” Kalau anak bilang “iya” atau mengangguk setuju, dia bisa diminta melanjutkan ceritanya. Jadi, perkataan anak yang tadinya terkesan “tidak jelas” dan “tidak bermakna” itu justru perlu di-uraikan oleh orang dewasa. Ank juga jdi belajar untuk berbicara lebih pelan dan komunikasi jadi dua arah.
-Perhatikan juga gestur anak saat sedang berbicara. Anak usia 2-3 tahun masih akan menggunakan banyak gestur sambil berbicara, karena ia juga baru belajar untuk menggunakan cara komunikasi baru yaitu dengan kata-kata
– Perhatikan juga kemampuan bahasa reseptifnya. Mengucapkan kata-kata adalah kemampuan ekspresif. Namun anak juga memiliki kemampuan reseptif, yaitu untuk memahami bahasa yang ia dengar. Jadi coba berikan anak instruksi dengan hal yang familiar di lingkungannya, misalnya “tolong ambilkan gelas yang hijau”, dan “taruh mainan mobil2an di kotak yang di situ.” Kalau anak bisa melakukan sesuai instruksi, berarti anak menguasai kosakata dalam instruksi tersebut. Berarti kemampuan bahasa reseptifnya berkembang
– anak juga bisa diajari kata per kata dahulu. Contohkn pengucapannya dengan jelas (“mi-num”, “mo-bil”, dll), dan minta anak ulangi. Kalau anak bisa mengimitasi (meniru)nya walaupun dengan pelafalan yang belum sempurna, menurut saya di usia 2-3 tahun ini anak masih sangat mungkin untuk berkembang.

Perkembangan Bahasa anak usia 3-4 tahun mulai dapat melakukan hal-hal berikut: 
· Berbicara dengan kalimat sederhana 3-5 kata, dengan struktur kalimat yang lebih baik. Contohnya, “Aku mau yang biru”, “Aku udah makan”, dan “Nanti aku pergi sama mama”. 
· Menggunakan kata ganti seperti “aku”, “kamu”, “dia”, dan “kita” 
· Mengikuti instruksi bertahap, bisa 2 atau 3 tahap sekaligus. Misalnya, “pakai sepatu, ambil tas, lalu berbaris di depan pintu”..
Dll nanti dibahas lebih dalam  di perkembangan bahasa anak ya, Bun ✅

4. Anak pertama sy, Syauqi 3,5y.sekarang ini lagi semangatnya  minta di ajarkan membaca. Sy sbg bundanya khawatir apakah tidak terlalu dini jika sy penuhi keinginanny u/belajar membaca. Alhamdulillah anaknya sudah mengenal huruf baik huruf besar atw kecil. Itu juga pengenalan huruf melalui kegiatan membacakan buku sebelum tidur. Dan skrg dia penasaran ingin juga bisa membaca seperti bundanya. Menurut bunda perlukan sy penuhi keinginanny,?metode membaca yg seperti apa yg sebaiknya dipelajari anak sy?terimakasih
Dian kumala sari/purbalingga /3,5/RMA 7
Jawab:
Halo Bunda Dian dan Syauqi yg cerdas..Alhamdulillah ya Mba jika minat membaca Syauqi tumbuh dengan luar biasa hingga ia ingin sekali membaca buku sendiri. Tidak apa2 Mba jika memang itu kemauan anak sendiri, tidak terpaksa/dipaksa, dan anak enjoy2 saja melakukannya..

Usia 3-5 merupakan usia pra-membaca, di usia ini sudah mulai dilakukan persiapan untuk masuk ke tahap membaca. Di usia ini anak sudah bisa mengulangi cerita dari buku cerita bergambar yang sering dibaca, mencoba bercerita berdasarkan gambar yang dilihat dalam buku, dan mengingat tulisan beberapa kata (bukan per hurufnya tapi katanya secara utuh), terutama kata yang sering muncul dalam cerita.

Karena Syauqi sudah mengenal huruf, Bunda bisa mengenalkan kata2 yg pendek (4 huruf) padanya dengan bantuan benda konkrit. Misal, Bunda meletakkan miniatur TEKO, lalu pinta anak merangkai hurufnya sambil mengucapkan fonem (phonics) nya pelan2 T-E-K-O. Setelah anak mampu merangkai dgn bantuan benda2 konkrit, benda2 tersebut bisa diganti dengan kartu bergambar (flash card) pinta anak kembali menyusun kata sesuai gambar di kartu tsb. Jika sdh bisa merangkai 1 kata yg terdiri dr 4 huruf, maka dilanjutkan dengan kata yg lebih sulit. Prinsipnya, kenalkan dr yg konkrit ke yg abstrak. Dari yg mudah ke yg sulit. Semangat ✅

5. Kedua anak saya, hanyfa 4,5 th dan hamas 3 th cenderung senang bermain berdua saja atau bersama seorang keponakan laki2 saya yg berusia 3,5 tahun. Selain itu mereka agak sulit making friend. Jika hendak bermain keluar rumah harus bersama saya atau suami saya. Jarang sekali mereka mau bermain dengan teman baru tanpa kehadiran saya dan atau suami padahal sudah sering distimulus dengan mengajak main ke tetangga dekat. Apakah ini normal?
Yuni/ mataram/ hanyfa 4,5 th, hamas 3 th/RMA 5
Jawab:
Halo Bunda Yuni.
Reaksi anak saat bertemu orang asing dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya berupa temperamen, yaitu kecenderungan untuk bereaksi dengan pola tertentu di beragam situasi. Ada anak yang “anteng” dibawa ke mana saja dan cepat beradaptasi dengan orang baru (easy child), ada anak yang di awal cenderung menjaga jarak tapi sebenarnya hanya butuh waktu untuk mulai mau berinteraksi dengan orang baru (slow to warm up child), dan anak yang untuk didekati dan diubah jadwal rutinitasnya butuh usaha yang cukup keras (difficult child). Faktor eksternal berupa cara orangtua mengajari anak tentang orang asing. Apakah anak diajari untuk dapat menghadapi orang asing, atau justru ditakut-takuti bahwa orang asing itu jahat (“kalau ga stop nangisnya nanti dibawa sama tante itu loh”, “nanti dipanggilin pak polisi loh”, dll), atau sebaliknya orangtua terlalu mudah membiarkan anak disentuh (misalnya anak dicubit-cubit pipinya atau langsung digendong) dan diberi sesuatu oleh orang yang bahkan tidak dikenal juga oleh orangtua.

Nahh..anak2 Mba Yuni termasuk yang manakah?
Anak slow to warm up dan difficult di awal kelihatannya sama. Bedanya, anak slow to warm up belum mau bergabung di kegiatan baru atau berinteraksi dengan orang baru karena dia merasa perlu “Cek ombak” / lihat medan dulu baru merasa nyaman. Sedangkan pada anak yang temperamennya difficult, tempat baru berarti rutinitasnya berubah dan dia frustrasi. Anak difficult juga biasanya tidak teratur dalam pola sehari2, misalnya jam mengantuk, jam lapar, dan jam buang air besar. Jadi anak mba difficult atau slow to warm up? :)

Bagi anak yang masih sangat kecil, rutinitas yang mendadak berubah bisa bikin kaget dan takut. Sebelum pergi main ke taman, apa anak sudah diberitahu nanti akan pergi ke mana dan akan ada apa/siapa di sana? Anak juga butuh persiapan untuk menghadapi hal baru. Ada anak-anak yang walaupun takut-takut tapi masih mau sedikit mendekat kalau ditemani orangtuanya, apalagi kalau memang masih kecil, di bawah 3 tahun.

Oia, semakin banyak pengalaman anak bertemu dengan orang baru (TPA, playgroup, sepupu, tetangga, dll) anak bisa belajar untuk melatih keterampilan sosialnya. Makanya memang acara bermain jadi sarana yang baik juga untuk mengekspos anak ke lingkungan sosial. Kalau anak awalnya tidak mau, diajak pelan-pelan saja sambil terus didampingi. Anak juga belajar kok selama proses itu, tapi dengan caranya sendiri. Kalau untuk memasukkan ke paud bisa cek jawaban nomor 2 yaa. Untuk mempersiapkan anak sekolah tentu ada banyak faktornya, bukan semata-mata agar anak mampu bersosialisasi saja. :) Semangat dan terus bersabar, Bunda
(Sarah dan Kiki)

6. Dwi, depok, 3y. Rma 5
Mb.. anak saya itu agak kurang nyaman kalau main terlalu banyak orang. Apakah begitu tumbang pada usia 3y?
Dan ‘gelian’, mungkin karena dari kecil saya ga mau dia kotor.
Apa yg harus saya lakukan?
Bagaimana untuk merangsang fokus konsentrasinya agar lebih lama dan mau duduk lama untuk menyelesaikan suatu permainan?
Jawab :
Halo Mba Dwi, terkait kurang nyaman kalau main terlalu banyak orang bisa di cek pd jawaban utk Mba Yuni td ya..

Iya, Bun. Anak2 usia dini, terlebih di bawah usia 2 tahun belajar banyak hal dr indra mereka. “Geli” untuk memegang sesuatu bisa jd karena saat kecil tidak banyak distimulasi utk meraba berbagai macam tekstur dan bahan sehingga indra perabanya sangat sensitif.

Stimulasi indra peraba di antaranya:
Brush area tubuh (kecuali kepala, wajah, leher, dada, perut, ketiak, paha dalam)
Berjalan di tekstur bergradasi tanpa alas kaki
Berguling di rumput, berjalan di rumput
Berendam dan main pasir
Main adonan kue
Mengelem berbanding lurus dengan usianya. 3 tahun rata2 3 menit. Untuk meningkatkan konsentrasi anak, bisa dimulai dengan lebih sering bermain apa yg anak suka dan butuhkan. Misalnya, ia suka mobil2an, silakan sepekan pertama main mobil2an dengan berbagai variasi permainan. Yg ia butuhkan, misalnya kegiatan practical life skills
Hand/finger painting
Dicoba pelan-pelan dr tekstur yg paling lembut ya Bun.
Mba Dwi yg baik, menurut penelitian rentang konsentrasi anak masih sangat pendek, berbanding lurus dengan usianya. 3 tahun rata2 3 menit. Untuk meningkatkan konsentrasi anak, bisa dimulai dengan lebih sering bermain apa yg anak suka dan butuhkan. Misalnya, ia suka mobil2an, silakan sepekan pertama main mobil2an dengan berbagai variasi permainan. Yg ia butuhkan, misalnya kegiatan practical life skills seperti: menyendok, menuang, memindahkan sesuatu. Bermain puzzle, lego, balok juga bisa meningkatkan konsentrasi anak
Selain itu utk membantu anak fokus, bisa juga dicoba anak dipinta berjalan lurus pd garis atau melewati balok titian. Hal ini akan membantu meningkatkan konsentrasi anak. ✅

7. Assalamu’alaikum mba, anak saya yang pertama sekarang usia 2 tahun 9 bulan. Sudah bisa BAB dan BAK sendiri. Tapi kadang sudah BAB di celana baru mau bilang. Malam juga kadang masih BAK di kasur (sudah tidak mau pakai diaper), padahal mau tidur sudah BAK. Sudah sering saya nasehati. Harus bagaimana ya? Makasih.
Nurul Farida/Banjarnegara/ 2,9 tahun
Jawab :
wa’alaikumsalam mba Nurul..
Tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda, termasuk kemampuannya untuk memulai toilet training. Umumnya, anak siap menjalani toilet training pada saat berusia 18 bulan, tapi kebanyakan anak berhasil menjalaninya pada saat berusia 2-3 tahun.

Untuk mengetahui tanda awal seorang anak siap untuk diberikan toilet training adalah dengan melihat kesiapan fisik dan emosionalnya.

💙Kesiapan Fisik:
-Anak memperlihatkan ekspresi saat menahan BAK atau BAB.
-Popok kering saat bangun tidur atau setelah dua jam pemakaian.
-Tidak BAB di popok saat malam hari.
-BAB terjadi pada waktu yang sama tiap harinya atau pada waktu yang tidak bisa diprediksi.
-Anak mampu melepas dan memakai pakaian serta mampu berkomunikasi dengan Anda tentang pemakaian toilet.

💙Kesiapan Emosional:
-Anak akan memberitahu Anda ketika popoknya kotor dan meminta untuk diganti dengan yang baru.
-Dia lebih memilih memakai celana dalam ketimbang popok.
-Menunjukkan ketertarikannya ketika Anda memakai kamar mandi.
-Memberitahu Anda ketika dia ingin buang air.
-Bersemangat mengikuti semua proses toilet training.

Terus disounding saja untuk melakukan BAK dan BAB di kamar mandi. Jangan dipakaikan diapers saat bepergian agar anak tidak “bingung”. Semoga menjawab ya Bun. Selebihnya nanti akan ada materi tersendiri utk Toilet Training✅

8. Anak saya laki-laki usia hampir 4 tahun, kalau di rumah sikapnya biasa saja. Tapi kalau di luar saat saya kumpul dengan ibu-ibu tetangga, arisan atau ada tamu di rumah, capernya keluar. Dia teriak-teriak sendiri dengan bahasa tidak jelas (sebenarnya bahasa Inggris tapi belum sempurna), nyanyi-nyanyi, minta gendong dll. Saya sudah kasih pengertian dan kadang pakai metode pengabaian, tapi masih belum berhasil. Ohya, beberapa bulan terakhir kalau ketemu orang tidak mau salaman 😅
Mohon solusinya ya, kapan bisa berubah? Apa yang harus saya lakukan?
Terima kasih 😊
(Winda, Bogor, 3th11bln, RMA6)
Jawab:
8. Halo Mba Winda di Bogor. Sabar ya, Mba sebab tiap anak akan selalu istimewa. Usia 4 tahun sudah bisa sekali diajak berkomunikasi 2 arah dan membuat kesepakatan2, Bun. Jadi, ada baiknya sebelum pergi ke suatu tempat Bunda berdialog dgn putra Bunda. Memberi tahu akan pergi ke mana, ke rumah siapa, bertemu dgn siapa saja, acaranya apa, juga berapa lama waktunya. Selain itu, Bunda juga membuat kesepakatan2 dengan si kecil, misal: nanti jika di sana Bunda akan senang sekali jika Abang salam semua Tante2. Nanti di sana Abang tidak boleh teriak2 sebab tidak santun, dll. Ajak anak terlibat apa saja yg boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Kemudian, buat juga konsekuensinya bersama2 si Abang, jika si Abang teriak2 maka apa konsekuensinya? Semua keputusan libatkan anak ya, Bun. Dan jika memang nanti anak melanggar kesepekatan bersama, maka Bunda harus tegas dan disiplin utk menerapkan konsekuensinya. Oia, baiknya sih tingkah laku anak yg ‘salah’ tidak diabaikan, Bun. Karena jika kita abaikan anak akan menganggap bahwa hal tersebut boleh2 saja. Jadi, segala ‘behaviour’ yg tidak tepat sebaiknya langsung ditegur. Jangan menunggu pulang ke rumah juga, karena biasanya anak akan lupa. Tetap ditegur setelah ia melakukan kesalahan, namun sebisa mungkin jangan sampai menjatuhkan harga dirinya (misal: menegurnya dgn kalimat santun dan bukan di hadapan banyak orang). Tetap semangat ya, bun ✅

9. Assalamu’alaikum
Anak saya, Qina (25m). Lagi berkembang pesat emosinya. Dikit-dikit ngambek, nangis, dan kadang memukul. Qina perasa sekali anaknya, jadi kalai dengar suara keras langsung takut, lihat orang marah atau melotot takut.
Nah..apakah pada rentang usia seperti memang wajar?dan bagaimana cara menyikapi dg baik agar emosinya tetap asertif.
Terimakasih 😊
Yuliatin Ana/bintaro/RMA 6
Jawab
9. Wa’alaikumsalam Mba Yuliatin. Halooo Qina yg sedang bertumbuh. Mba Yuli, usia 2 tahun sering dikenal dgn istilah “the terrible two”, tp saya pribadi lebih suka menyebutnya “the challenge two”. Yup, di usia ini anak sudah ingin lebih mandiri namun kemampuannya masih sangat terbatas sehingga seringkali emosinya meledak2. Anak2 usia 2 tahun seringkali tidak ingin dibantu melakukan suatu hal. Ia akan seriiing sekali berkata, “aku aja..” “aku bisa kerjain sendiri” “aku bisa”, dll. Mereka akan senang jika diberi kesempatan dan ditumbuhkan kepercayaan dirinya. Coba Bunda telusuri hal2 apa sajakah yg menyebabkan Qina menangis dan ngambek? Dengan mengetahui akar masalahnya, maka akan lebih mudah menentukan solusinya. Beri anak ruang kesempatan untuk mencoba dan support terus dengan memberinya kepercayaan. Semoga membantu ya, Bun ✅

10. Aslkm..
Mau tanya untuk meningkatkan aspek psikososial anak 3y itu bagaimana yah? Anak sy kadang klo pas main bareng suka rebutan mainan atau ga mau berbagi yg ujungnya nangis bareng..hehe. Katanya sih wajar kyk gt..nah klo ga wajarnya kayak gmn..jd kita udh harus waspada gt..makasih
Nama : Rani
Nama Anak : Janees (3y)
RMA 6
Jawab:
10. Wa’alaikumsalam Mba Rani. Iya Mba, anak usia 3y masih wajar sekali jika sering berebut mainan dan menangis. Pada usia ini anak masih berada dalam fase egosentris. Mereka belum bisa melihat sesuatu dr sudut pandang orang lain, Mba. Kalimat “bergantian yaa mainnya” jauh lebih baik drpd “berbagi” atau “pinjemin” yaa. Sebab, yg mereka pikirkan jika berbagi berarti mainannya tak akan kembali lagi 😅

Hal yg bisa kita lakukan selain dengan mengajak bergantian ialah menghargai keputusan anak. Jika itu mainan miliknya dan ia sedang tidak ingin berbagi, maka pilihkan mainan lain untuk temannya. Begitupun sebaliknya, jika iti mainan temannya dan temannya tidak ingin berbagi, maka anak harus kita ajak untuk mencari mainan lain. Oia, jangan lupa juga untuk mengajarkan empati pada anak kita, Bun. Saat di rumah, kita bisa mengatakan “Dek, gimana rasanya kalau adik ga dipinjemin mainan? Sedih ga?” Misal anak jawab, “iya, sedih.” Bunda boleh tambahkan “Kalau begitu besok mainnya bergantian ya sama temannya.” Hal ini memang tidak cukup sekali-dua kali Bun. Jadi, kita harus sabaaar 😘 ✅

11. Darsini, bunda faris 3y1m,RMA 6.
Bagaimana cara stimulasi anak bicara huruf R dan L.. krn anak perempuan yg lebih muda dr faris sdh jelas bicara huruf L dan R. Sayapun ga pernah berkata cadel, utk menulis jg masih blm mau (laporan dr guru TPA,faris msh byk main) krn msh 3th,ga terlalu aku paksa utk bs nulis krn dunianya bermain. Tp gmn di sekolah? Tmn2nya sebaya sdh mau nulis, selama ini aku ajarkan dg gambar titik membentuk huruf supaya digarisi tp msh blm mau mengikuti. Nnti jawabnya : bunda aja deh yg nulis 😁😁😁 kalau sdh komen begitu, q jwb ; ywd.. lanjut nanti ya belajarnya.. pdhl faris duluan yg bilang : ngerjain PE E (PR) yuk bunda
Jawab:
Dalam mengajari huruf R diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir. Pada usia sekitar  2-3 tahunlah anak baru mengusai pengucapan 2/3 dari seluruh konsonan. Menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang, dan diharapkan anak sudah mulai bisa mengucapkan seluruh konsonan pada usia pra-sekolah. Tapi, sekali lagi, perkembangan tiap anak itu berbeda, kemungkinan di usia 4 tahun ada juga anak yang masih cadel mengucapkan huruf R. 
Nah perbedaan kematangan ini bisa disebabkan faktor keturunan, nutrisi, dan juga asuhan.
Stimulasi perkembangan anak dengan terbiasa menggunakan kata yang benar, tidak dicadel-cadelkan. Misal bilang susu tetap susu, jangan dicadel-cadelkan menjadi cucu.

Coba dicek lg Mba, kenapa anak tidak mau menulis?

Kemampuan menulis berkaitan erat dengan kejuatan otot tangan, otot jemari tangan, juga koordinasi mata-tangan. Bunda bisa stimulasi dengan berbagai permainan yg dapat mwnguatkan otot2 tangannya dulu, seperti menyemprot dengan spray, bermain play dough, menuang sesuatu ke temoat lain, finger painting, melempar bola, dll.

Jika menurut Bunda tidak mengapa anak belum mau menulis, maka sebaiknya pilih sekolah yg ga banyak kegiatan “drilling” nulisnya sih, Bun 😅 Namun, bisa juga Bunda ajak bicara gurunya. Bahwa jika anak saya belum mau menulis ya gapapa, jangan dipaksa..✅

12. Mba, anak saya (2y3m) kalau bertemu laki-laki dewasa (baru dikenal) kadang suka nangis dan takut. Tapi tidak ke semua. Kadang biasa saja dan mau langsung berinteraksi. Saya coba telusuri apakah ada peristiwa traumatis, tapi belum juga ketemu. Apa yg harus dilakukan ya?
Jawab:
Halo Bunda Ade.
Reaksi anak saat bertemu orang asing dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya berupa temperamen, yaitu kecenderungan untuk bereaksi dengan pola tertentu di beragam situasi. Ada anak yang “anteng” dibawa ke mana saja dan cepat beradaptasi dengan orang baru (easy child), ada anak yang di awal cenderung menjaga jarak tapi sebenarnya hanya butuh waktu untuk mulai mau berinteraksi dengan orang baru (slow to warm up child), dan anak yang untuk didekati dan diubah jadwal rutinitasnya butuh usaha yang cukup keras (difficult child). Faktor eksternal berupa cara orangtua mengajari anak tentang orang asing. Apakah anak diajari untuk dapat menghadapi orang asing, atau justru ditakut-takuti bahwa orang asing itu jahat (“kalau ga stop nangisnya nanti dibawa sama tante itu loh”, “nanti dipanggilin pak polisi loh”, dll), atau sebaliknya orangtua terlalu mudah membiarkan anak disentuh (misalnya anak dicubit-cubit pipinya atau langsung digendong) dan diberi sesuatu oleh orang yang bahkan tidak dikenal juga oleh orangtua.

Nahh..anak2 Mba Ade termasuk yang manakah?
Anak slow to warm up dan difficult di awal kelihatannya sama. Bedanya, anak slow to warm up belum mau bergabung di kegiatan baru atau berinteraksi dengan orang baru karena dia merasa perlu “Cek ombak” / lihat medan dulu baru merasa nyaman. Sedangkan pada anak yang temperamennya difficult, tempat baru berarti rutinitasnya berubah dan dia frustrasi. Anak difficult juga biasanya tidak teratur dalam pola sehari2, misalnya jam mengantuk, jam lapar, dan jam buang air besar. Jadi anak mba difficult atau slow to warm up? :)

Bagi anak yang masih sangat kecil, rutinitas yang mendadak berubah bisa bikin kaget dan takut. Sebelum pergi main ke taman, apa anak sudah diberitahu nanti akan pergi ke mana dan akan ada apa/siapa di sana? Anak juga butuh persiapan untuk menghadapi hal baru. Ada anak-anak yang walaupun takut-takut tapi masih mau sedikit mendekat kalau ditemani orangtuanya, apalagi kalau memang masih kecil, di bawah 3 tahun.

Oia, semakin banyak pengalaman anak bertemu dengan orang baru (TPA, playgroup, sepupu, tetangga, dll) anak bisa belajar untuk melatih keterampilan sosialnya. Makanya memang acara bermain jadi sarana yang baik juga untuk mengekspos anak ke lingkungan sosial. Kalau anak awalnya tidak mau, diajak pelan-pelan saja sambil terus didampingi. Anak juga belajar kok selama proses itu, tapi dengan caranya sendiri. Semangat dan terus bersabar, Bunda.
(Sarah dan Kiki)

Follow  us :
IG : @rumahmainanak
Fanpage FB : Rumah Main Anak
Blog: www.rumahmainanak.blogspot.com
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙

Advertisements

Tell me your fabulous comments..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s